Kamis, 01 April 2021

EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN

       Paper Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan                                                                       Medan,       Maret 2021

Jenis dan Nilai Ekonomi Hasil Hutan Bukan Kayu Terhadap Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas

 

Dosen Penanggung Jawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Disusun Oleh :

Ajlan Najib Sinaga
191201017
 HUT 4A

 

 


 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021





KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan ini dengan baik dan tepat waktu. Paper ini berjudul “Valuasi Ekonomi Sumberdaya Hutan Mangrove Di Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara” Tujuan dari penulisan Paper ini untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam menulis Paper ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. sebagai dosen penanggungjawab yang telah membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan Paper ini.

Meski penulis sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan Paper ini agar mendapat yang terbaik, namun penulis sadar bahwa Paper ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan Paper ini.

 

Medan,    Maret  2021


 

Penulis




 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
      Masyarakat lokal sekitar hutan berinteraksi dengan hutan sejak ratusan tahun memiliki pengetahuan mengenai bagaimana menggunakan tumbuhan hutan secara berkelanjutan. Masyarakat lokal dan pengetahuan mereka tentang hutan merupakan hal yang penting dalam praktik konservasi kawasan lindung. Pengetahuan etnobotani banyak ditemukan dalam suku-suku tradisional di Indonesia yang merupakan hasil dari berinteraksi, berproses, dan bersikap melakukan pemanfaatan tumbuhan hutan. Pengelolaan hutan dengan pengetahuan tradisional untuk kelestarian hutan akan tercapai jika masyarakat lokal terlibat dalam kegiatan pengelolaan. Pengaruh perubahan dikhawatirkan akan menyebabkan semakin menurunnya pengetahuan tradisional atau bahkan menghilang. (Muhumuza dan Balkwill 2013). 
     Mengidentifikasi ekonomi dari sumber daya hutan sangatlah banyak dan beranekaragam. Potensi sumber daya hutan dapat dijumpai dalam kegiatan praktek seperti kegiatan praktek pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan daerah aliran sungai, inventarisasi sumber daya hutan, dan ekologi hutan. Potensi sumber daya hutan yang terlihat pada kegiatan pengelolaan sumber daya hutan dan pengelolaan daerah aliran sungai seperti pada material batu-batuan, penggunaan lahan menjadi ladang persawahan dan perkebunan. Disisi lain, sumber daya hutan yang paling bermanfaat dalam kehidupan masyarat adalah jasa air. Jasa air ini sangat bermanfaat dalam hal mengairi ladang persawahan masyarakat. Potensi sumber daya yang terlihat pada kegiatan Inventarisasi dan ekologi hutan terlihat pada pengguna sumber daya hutan hasil kayu dan non kayu. Sumber daya hasil kayu dan non kayu yang berkualitas akan mempengaruhi nilai ekonomi sumber daya tersebut. Semakin berkualiatas sumber daya hutan yang terkandung maka makin besar nilai ekonomi sumber daya tersebut (Tri, 2018).

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Ekosistem Taman Nasional Bukit Duabelas terhadap suku anak dalam
2. Apa Manfaat ekonomi Hasil Hutan Non Kayu terhadap suku anak dalam 
3. Apa kontribusi Taman Nasional Bukit Duabelas terhadap masyarakat anak dalam

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui manfaat ekosistem Taman Nasional Bukit Duabelas
2. Untuk mengetahui manfaat ekonomi Hasil Hutan Non Kayu terhadap suku anak dalam
3. Untuk mengetahui Kontribusi Taman Nasional Bukit Duabelas terhadap masyarakat anak dalam


BAB 
II


2.1 Manfaat ekosistem Taman Nasional Bukit Duabelas
        Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) telah lama dikenal sebagai salah satu pusat populasi Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi. Kawasan TNBD sendiri bahkan ditetapkan dengan salah satu tujuan khusus yaitu untuk melindungi budaya dan kehidupan SAD ini. SAD atau dikenal juga dengan istilah Orang Rimba merupakan salah satu suku tradisional di Provinsi Jambi. SAD menyebar secara umum pada 3 (tiga) lokasi yaitu sekitar bagian barat Provinsi Jambi (lintas timur), kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas dan bagian utara Provinsi Jambi sekitar wilayah Taman Nasinal Bukit Tigapuluh. SAD mengembara di dalam hutan, tepian sungai dan menggantungkan hidup pada hasil hutan dimana mereka berdiam. Taman Nasional biasanya memiliki kontribusi terhadap masyarakat sekitar hutan termasuk dalam peningkatan ekonomi masyarakat sehingga masyarakat memiliki tingkat ketergantungan terhadap kawasan hutan. SAD merupakan masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya dari hasil hutan. Hutan bagi SAD tidak hanya memiliki fungsi ekonomi saja tetapi memiliki nilai adat yang sangat tinggi. Hutan sangat berarti karena merupakan tempat hidup, mencari makan dan tempat adat istiadat. Interaksi yang berada pada kawasan hutan dapat berupa pemanfaatan Hasil Hutan dan kawasan konservasi seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat baik manfaat langsung (tangible) maupun tidak langsung (intangible). 

2.2 Manfaat Ekonomi Hasil Hutan Non Kayu terhadap suku anak dalam
      SAD diketahui telah memanfaatkan HHBK dalam kehidupannya baik untuk dipakai secara langsung maupun untuk dijual. Pada penelitian ini didapatkan beberapa jenis HHBK yang dimanfaatkan oleh SAD untuk diambil nilai ekonominya (dijual). Jenis HHBK tersebut antara lain adalah:
1. Madu
        Madu merupakan salah satu HHBK yang terdapat dikawasan TNBD. Pohon Sialang merupakan pohon tempat bersarangnya lebah madu. Pohon sialang yang dimaksud oleh SAD biasanya merupakan pohon Meranti (Shorea sp.), Keruing (Dipterocarpus sp.), Kedondong (Spondias sp.), dan Pulai (Alstonia scholaris). Proses pemanenan madu oleh SAD bisa di panen satu kali dalam 1 tahun. Berdasarkan hasil observasi lapang diketahui bahwa masyarakat SAD tidak banyak yang memanfaatkan madu. Pengambilan madu tidak dilakukan secara rutin melainkan merupakan pekerjaan sampingan saja. Lokasi pengambilan madu berada di kawasan TNBD dengan waktu tempuh berjalan kaki seharian penuh. Hasil dari madu ini biasanya dimanfaatkan untuk dikonsumsi langsung dan juga dijual kepada masyarakat luar kawasan hutan dengan harga 1 liter madu Rp.100.000. Proses pengolahan madu pada SAD masih menggunakan cara sederhana yaitu dengan memanjat Pohon Sialang kemudian hasil madu diperas dengan tangan dan disaring memakai kain.
2. Rotan ( Calamus sp)
     Rotan (Calamus spp.) Rotan merupakan salah satu HHBK yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat SAD. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat SAD memanfaatkan 22 jenis rotan sebagai sumber penghasilan, bahan kerajinan, obat, pewarna, pengawet, ritual, dan materi sekunder. Rotan biasanya dimanfaatkan oleh SAD dalam pembuatan kerajinan, HHBK jenis ini diperjualkan ke masyarakat atau dipakai untuk kebutuhan SAD. Rotan tersebut dijual kepada pembeli dengan panjang 4 meter dengan harga Rp 6.000- Rp 7.000 sesuai dengan jenis rotan. Lokasi pengambilan rotan berada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas dengan jarak lokasi berkisar ± 1-20 km dari kawasan pemukiman SAD atau berjalan kaki seharian untuk mencari HHBK tersebut.
3. Jernang ( Daemonorops spp)
       Jernang (Daemonorops spp.) Rotan jernang merupakan komoditi HHBK yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Jernang adalah resin yang menempel dan menutupi bagian luar buah rotan jernang (Daemonorops sp.). Jernang dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan seperti diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis serta pembeku darah, bahan pewarna untuk vernis, keramik, marmer, alat dari batu, kayu, rotan, bambu, kertas, cat. Jernang pada kawasan TNBD ada 2 jenis yaitu: jernang asli dan jernang simpai/burung. Lokasi pemanfaatan Jernang dapat ditempuh dengan jarak 1-20 km untuk mencari letak pohom Jernang untuk dipanen. Nilai ekonomi dari jernang yang di manfaatkan oleh SAD sangat berperan penting bagi kehidupan perekonomian mereka. Responden SAD menjelaskan 1 kg jernang jenis asli bisa mencapai Rp. 1,900,000,- sedangkan yang hanya berupa biji belum diolah bisa mencapai Rp. 260,000/Kg. Biasanya masyarakat SAD mencari Jernang ke dalam hutan kemudian menjual keluar kawasan hutan.
4. Damar
        Damar Damar merupakan hasil HHBK yang terdapat dikawasan TNBD. Indonesia memiliki 115 spesies pohon dan 7 di antaranya menghasilkan damar Damar merupakan salah satu HHBK yang terdapat cukup banyak di TNBD dan mudah untuk mendapatkannya. Damar biasanya digunakan SAD untuk membuat obor ataupun dijual langsung ke masyarakat luar kawasan hutan. Hasil wawancara yang dilakukan pada SAD dapat diketahui bahwa harga jual damar sangat rendah sehingga mereka tidak terlalu berminat untuk mencari HHBK tersebut. SAD biasanya menjual Damar dengan harga Rp.1000/kg. Damar di TNBD biasa diperoleh dari hasil pohon Shorea sp., Hopea dryobalaniodes dan Parashorea aptera. Pemanfaatan hasil hutan ini dilakukan oleh SAD pada jarak ±1-10 km dari lokasi mereka tinggal.
5. Merpayang
        Merpayang (Scaphium macropadum) merupakan HHBK yang berasal dari Family Sterculiaceae yang terdapat di TNBD. Merpayang (Scaphium macropadum) dipanen satu kali dalam satu tahun. Lokasi pemanfaatan HHBK ini dapat ditempuh dengan jarak ± 8 km untuk mencari letak pohon Merpayang untuk dipanen. Untuk harga buah Merpayang sendiri memiliki harga jual yang cukup tinggi dibandingkan dengan HHBK lainnya. Biasanya Merpayang dijual Rp. 50,000/kg.
6. Durian
        Hasil wawancara yang dilakukan terhadap SAD menunjukkan bahwa Durian merupakan salah satu HHBK yang cukup banyak dihasilkan setiap tahunnya di TNBD. Jenis durian yang dimanfaatkan oleh SAD adalah Durian Haji (Durio zibethinus) dan Durian Daun (Durio oxleyanus) yang memiliki jenis buah lebih kecil dari durian biasa. Durian dipanen dengan cara dipungut, SAD memanfaatkan durian untuk dikonsumsi juga dijual. Buah durian ini biasanya dipanen setahun sekali dengan rata-rata harga Rp. 10.000/buah. Pada satu kali musim pengambilan durian bisa menghasilkan 50-400 buah/orang.
7. Sebalik Sumpah
        Hasil wawancara yang dilakukan terhadap SAD menunjukkan bahwa Durian merupakan salah satu HHBK yang cukup banyak dihasilkan setiap tahunnya di TNBD. Jenis durian yang dimanfaatkan oleh SAD adalah Durian Haji (Durio zibethinus) dan Durian Daun (Durio oxleyanus) yang memiliki jenis buah lebih kecil dari durian biasa. Durian dipanen dengan cara dipungut, SAD memanfaatkan durian untuk dikonsumsi juga dijual. Buah durian ini biasanya dipanen setahun sekali dengan rata-rata harga Rp. 10.000/buah. Pada satu kali musim pengambilan durian bisa menghasilkan 50-400 buah/orang.
8. Getah Balam
        Balam merupakan salah satu HHBK yang digunakan SAD untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, umumnya balam yang dimanfaatkan oleh SAD di TNBD adalah Balam merah (Palaquium gutta) dan Balam putih (Palaquium hexandrum.). Getah balam merupakan HHBK yang dikelompokkan ke dalam lateks yang secara komersil dimanfaatkan untuk bahan industri karet, ban, dan isolator kabel listrik dan juga sebagai bahan pembuatan bola golf. Secara tradisional, getah Balam dimanfaatkan oleh SAD untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Biasanya balam digunakan sebagai obor atau dijual dengan harga Rp. 25,000/kg. Lokasi pemanfaatan Getah Balam ini dapat ditempuh dengan jarak sekitar ± 5-10 km untuk mencari letak pohon Getah Balam untuk dipanen.
9. Getah Jelutung
        Getah Jelutung (Dyera spp.) merupakan salah satu HHBK yang dimanfaatkan oleh SAD di TNBD dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok SAD memanfaatkan getah jelutung sebagai bahan perdagangan sehingga memberikan nilai ekonomi. Teknik pemotongan getah dilakukan pada pagi hari jam 5 sampai 10 pagi karena jika sudah terkena matahari getah jelutung sulit keluar. Getah hanya keluar banyak 2-3 jam saja setelah disadap. Hasil penyadapan waktu tidak hujan sekitar 10 kg dan menjadi 13-14 kg di waktu setelah hujan dalam 10 pohon. 
10. Tunjuk Langit
        Tunjuk langit (Helminthostachis zeylanica) merupakan salah satu HHBK dari kelompok paku-pakuan yang dimanfaatkan oleh SAD dan memiliki manfaat terutama sebagai obat, sumber makanan dan serat. Jarak pemanfaatan Tunjuk Langit sekitar ± 1-6 km dari pemukiman SAD. Dalam waktu satu bulan SAD dapat mengumpulkan sebanyak 5-15 kg Tunjuk Langit. Cara pengolahan jenis HHBK ini hanya dijemur lalu dijual dengan harga Rp. 50,000/kg.
2.3. Kontribusi Taman Nasional Bukitduabelas terhadap Suku Anak Dalam
        Manfaat ekonomi tertinggi adalah dari HHBK Rotan sebesar Rp. 554,880,000/Tahun dengan proporsi 53.25% dan nilai manfaat paling rendah pada HHBK Getah Balam dengan nilai Rp 1,800,000/Tahun dengan proporsi 0.17%. Secara total nilai manfaat yang didapat dari HHBK Taman Nasional Bukit Duabelas adalah sebesar Rp 1.042.030.000/Tahun dengan rata-rata per bulan sebesar Rp. 86,835,833.33. 



BAB III
PENUTUP



 Kesimpulan
 1. manfaat ekonomi secara langsung bagi SAD di TNBD. Pada penelitian yang dillakukan ini total nilai    manfaat yang didapat dari 10 jenis HHBK di Taman Nasional Bukit Duabelas adalah sebesar Rp.       1,044,030,000/Tahun. Nilai manfaat tertinggi pada Rotan sebesar Rp 554,887,000/Tahun.

 2. Suku anak dalam diketahui telah memanfaatkan HHBK dalam kehidupannya baik untuk dipakai secara langsung maupun untuk dijual. Diantarnya madu, rotan, damar, jernang, merpayang, durian, sebalik sumpah, getah balam, getah jelutung, dan tunjuk langit.

 3. Nilai manfaat tertinggi pada Rotan sebesar Rp 554,887,000/Tahun dengan proporsi 53.25% dan nilai     manfaat paling rendah pada HHBK Getah Balam dengan nilai Rp 1,800,000/Tahun dengan proporsi     0.17%. 

 4. Taman Nasional biasanya memiliki kontribusi terhadap masyarakat sekitar hutan termasuk dalam   peningkatan ekonomi masyarakat sehingga masyarakat memiliki tingkat ketergantungan terhadap   kawasan hutan. SAD merupakan masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya dari hasil hutan.   Hutan bagi SAD tidak hanya memiliki fungsi ekonomi saja tetapi memiliki nilai adat yang sangat   tinggi. Hutan sangat berarti karena merupakan tempat hidup, mencari makan dan tempat adat istiadat.

 5.Penelitian dilakukan di Desa Penyangga Taman Nasional Duabelas. Pemilihan responden dilakukan   dengan teknik sampel acak sederhana (Simpel Random Sampling Technique) sementara jumlah   sampel ditentukan menggunakan Teknik Slovin.




DAFTAR PUSTAKA


Amirin T. 2011. Populasi dan Sampel Penelitian 4: Ukuran Sampel Rumus Slovin. Erlangga, Jakarta.

Andhika RR, Hariyadi B, Saudagar F. 2015. Etnobotani Penghasil Getah Oleh Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas Kabupaten Sarolangun, Jambi. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 20(1): 33-38.

Asra R, Syamsuardi S, Mansyurdin M, Witono RJ. 2012. Rasio seks jernang (Daemonorops draco (Willd.) Blume) pada populasi alami dan budidaya: Implikasi untuk produksi biji. Botanics Garden Bulletin, 15(1): 1-9.

Lestari S, Premono BT, Edwin M. 2017. Rotan Jernang sebagai Penopang Kehidupan Masyarakat: Kasus Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan, 14(3): 191-203.

Mulyani W, Parapat JH. 2018. Demografi Orang Rimba Taman Nasional Bukit Duabelas. Balai Taman Nasional Bukit Duabelas. Jambi 

Takiddin. 2014. Nilai-Nilai Kearifan Budaya Lokal Orang Rimba (Studi Kasus Pada Suku Minoritas di Kecamatan Air Hitam Provinsi Jambi). Sosio Didaktika, 1(2): 161-169.

Yetti, Hariyadi B, Murni P. 2013. Studi etnobotani jernang (Daemonorops spp.) pada masyarakat Desa Lamban Segatal dan Sepintun Kecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun Jambi. Biospecies, 6(1): 38-44.




13 Komentar:

Pada 1 April 2021 pukul 21.05 , Blogger Ga punya nama mengatakan...

👍👍

 
Pada 1 April 2021 pukul 21.06 , Blogger Ga punya nama mengatakan...

👍👍

 
Pada 1 April 2021 pukul 21.20 , Blogger Sindy hutapea mengatakan...

Mantapppss

 
Pada 1 April 2021 pukul 21.24 , Blogger Malik mengatakan...

Dengan ada suku anak dalam maka bukan haya ekonomi tetapi kelestarian hutan tersebut juga terjaga.

 
Pada 1 April 2021 pukul 21.26 , Blogger Priskian siboro mengatakan...

niceee

 
Pada 1 April 2021 pukul 21.29 , Blogger Unknown mengatakan...

Tingkatkan👍

 
Pada 1 April 2021 pukul 21.32 , Blogger Raffli S mengatakan...

informasinya sanga bermanfaat

 
Pada 1 April 2021 pukul 21.37 , Blogger Unknown mengatakan...

Mantap👍👍

 
Pada 1 April 2021 pukul 22.03 , Blogger Unknown mengatakan...

Bagus dan mantap

 
Pada 1 April 2021 pukul 22.19 , Blogger Mimi Nelfiana Tarigan mengatakan...

Good👍

 
Pada 2 April 2021 pukul 02.59 , Blogger Unknown mengatakan...

Mantap Sob 👍

 
Pada 2 April 2021 pukul 04.12 , Blogger hm mengatakan...

Bermanfaat

 
Pada 3 April 2021 pukul 07.15 , Blogger Alam Sastra mengatakan...

Terima kasih ilmunya. Sangat bermanfaat dan menambah wawasan saya tentang hutan.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda